SEJARAH TEMBAKAU LOMBOK

  • Rabu, 11 September 2019 - 08:30:15 WIB
  • Hadiatul Wazri
SEJARAH TEMBAKAU LOMBOK

Petani di Lombok mulai mengenal tembakau sejak 40-an tahun silam. Tembakau kemudian menjadi komoditas unggulan perkebunan NTB, yang terpusat di Lombok. Ada dua jenis tembakau yang dikembangkan di pulau kecil ini: tembakau rakyat atau dikenal juga dengan tembakau rajangan, dan tembakau Virginia.

Tembakau rajangan umumnya untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal, yang menginginkan aroma khas. Jenis tembakau ini seperti tembakau senang, kesturi, tembakau hitam, dan Makopan. Tembakau rajangan berwarna merah tua, banyak dijual di pasar-pasar tradisional.

Satu tumpi atau sekitar setengah kilogram dijual seharga Rp 10 ribu hingga Rp 60 ribu rupiah, tergantung jenisnya. Kecuali jenis Senang, harganya cukup tinggi, bisa mencapai Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu rupiah per tumpinya, dan tidak dipasarkan di pasar tradisional karena jumlahnya terbatas.

Khusus tembakau Senang, namanya diambil dari kampung Senang, Lombok Timur, tempat tembakau ini dibudidayakan. Sebenarnya tembakau ini berasal dari tembakau kesturi, namun khusus yang ditanam di sepetak lahan di kampung Senang itu rasanya berbeda dari dari tembakau rajangan lainnya, bahkan dengan kesturi yang ditanam di tempat lain. Tembakau senang kemudian menjadi primadona para perokok lokal, sekaligus sebagai satu ikon tembakau Lombok.

Sudah lumrah jika kita dapati orang-orang di Lombok memilin tembakau rajangan dengan selembar atau dua lembar kertas rokok saat istirahat dari bekerja. Rokok pilitan itu kemudian disulut dengan korek api bersumbu kapuk yang diberi minyak tanah. Asap akan mengepul dan menebarkan aroma khas, yang bisa tercium dari jarak sepuluh meter.

Saat duduk berkumpul, saat bekerja di sawah atau di kebun, atau di mana saja, jari tangan mereka bisa dipastikan menjepit sebatang rokok pilitan. Kemana-mana mereka selalu membawa segenggam tembakau dengan dompet bekas perhiasan ataupun kresek kecil yang dilengkapi kertas rokok dan korek api.

Berbeda dengan tembakau lokal, tdikeringkan dengan cara dioven kemudian dijual ke perusahaan rokok dalam bentuk daun kering atau disebut krosok. Di Lombok sendiri, tembakau jenis ini mulai dikembangkan sejak 1978 untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik-pabrik rokok putih.

Meskipun sebenarnya pengembangan telah dirintis sejak 1968 oleh perusahaan British American of Tobacco (BAT), dan diikuti perusahaan-perusahaan lain setelah itu seperti PT. Sadhana Arif Nusa. Tembakau Virginia Lombok membawa Pulau Seribu Masjid –sebutan bagi Lombok– ini menduduki peringkat papan atas di kancah internasional. Lembaga Tembakau Internasional yang berpusat di Jerman menilainya sebagai tembakau ketiga  setelah Amerika Serikat dan Brazil

  • Rabu, 11 September 2019 - 08:30:15 WIB
  • Hadiatul Wazri

Berita Terkait Lainnya

Tidak ada artikel terkait